Kamis, 28 Februari 2013

Balaslah Ledekan dengan “Ledakan”




Bagaimana perasaan kita ketika diledek atau diejek? Sebagian ada yang merasa rendah diri, ada yang cuek, ada yang marah, dsb. Bagaimana reaksi kita? ada yang acuh tak acuh, melawan, membela diri, dll. Ya sesuai dengan sub judul di atas, dalam tulisan ini saya sarankan untuk membalas ledekan itu dengan “ledakan.”
Ledakan itu bersifat mengagetkan, memusnahkan, dan mengalihkan perhatian. Maksud dari istilah ledakan itu demikian. Kita dapat meledakkan diri kita sendiri, diri orang yang meledek itu, atau meledakkan ke arah/tempat lain. Pertama, jika kita diledek, kita dapat membuat orang yang meledek itu kaget dengan memberikan aksi membuktikan bahwa ledekan itu suatu saat nanti tidak sesuai dengan keadaan kita saat ini. Kedua, jika kita diledek, kita dapat meledakkan orang yang meledek itu dan memusnahkannya. Maksudnya, kita membuatnya berhenti meledek dengan memberikan hujjah atau bantahan berupa dalil atau fakta kepadanya. Ketiga, kita dapat meledakkan ke tempat lain. Artinya kita mengalihkan perhatiannya agar ia tidak meledek kita lagi, melainkan membahas hal yang lain karena ledakan di tempat lain itu cukup menarik perhatiannya. 

(Deni bin Mu'min)_

Kamis, 21 Februari 2013

Caraku Mencintai



Kajian kehidupan kuungkapkan dalam rentetan tulisan
Banyak tangisan yang harus diceritakan
Banyak senyuman yang harus dibagikan
Aku hanyalah pendengar yang berbicara
Aku hanyalah pengamat yang menutup mata
Ikatan suciku masih dalam tawanan sang waktu
Ghirohku masih untuk mendapatkanmu
Untuk memiliki yang terbaik aku rela menunggu

Adab-adab islam yang mulia kupelajari
Kutahu dan kupahami hingga mengerti
Aku hendak memuliakanmu
Menghormatimu dengan sabarku
Merayumu dengan diamku
Memperbaikimu dengan akhlakku
Mempesonakanmu dengan ketaatanku
Sungguh, aku hendak memuliakanmu

Langit biru dengan paduan awan putih
Terik mentari atau rinai hujan
Bunga-bunga dan tarian serangga terbang
Sering dijadikan ungkapan puisi orang-orang
Untuk meluluhkan hatimu dengan sajak itu
Karena hatimu memang mudah tersentuh
Bisa saja aku begitu, tapi tunggu kita halal dulu

Jika engkau sudah memilikiku
Bicarakanlah semuanya padaku
Ceritakanlah tangisanmu padaku
Tunjukkanlah senyumanmu padaku
Aku mendengarkanmu, memperhatikanmu..
Ghirohku kini untuk membahagiakanmu
Puisi dan sajak indah ini untukmu
Merayumu dengan cara yang berbeda
Mempesonakanmu dengan cara yang sama
Mencintaimu dengan sempurna
Mendampingimu sampai ke surga
Biarkan rentetan cerita cinta kita.. tersebar ke seluruh penjuru dunia
Untuk menjadi hikmah dan sejarah yang indah_

(Deni bin Mu'min)

Rabu, 20 Februari 2013

Konsep “Sepasang Suami-Istri”




Segala Sesuatu yang Berpasangan Itu Bekerjasama



Kerjasama dapat diartikan menjadi dua, yaitu bekerja melakukan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan, dan dapat pula diartikan melakukan sesuatu yang berbeda dalam rangka mencapai tujuan yang sama.
Di dalam tubuh kita, segala sesuatu yang berpasangan itu bekerjasama. Sepasang kaki, tangan, mata, telinga, paru-paru, ginjal, dll. Coba perhatikan sepasang kaki kita. Kaki kanan dan kaki kiri, mereka melangkah, berjalan, berlari, dan melompat secara bersama-sama. Jika misalnya kaki kiri itu lumpuh, di depan sana ada sebuah lubang dengan diameter 1 meter, maka sulit bagi kita untuk melompati lubang tersebut bukan? Tetapi jika kaki kita sehat dua-duanya, maka itu bisa sangat mudah kita lakukan.
Sepasang tangan kita, tangan kanan dan tangan kiri. Mereka bekerjasama dalam mengetik tulisan ini untuk Anda. Mereka bekerjasama dalam membuat kue, memasak, menyetrika, mengendarai mobil atau motor, dsb. Kita sebagai sepasang suami-istri seharusnya bekerjasama untuk menghasilkan sesuatu, bukan saling menyerang dan menyakiti. Jika tangan kanan melukai tangan kiri, dan tangan kiri pun berusaha melawan dan melukai tangan kanan, maka kedua tangan itu bukannya menghasilkan sesuatu tapi malah dapat melumpuhkan salahsatu diantara mereka. Jika ada permasalahan atau sebuah keinginan hendaknya sepasang tangan itu bekerjasama untuk menyelesaikan masalah itu, untuk merealisasikan keinginan itu. Hendaknya sepasang suami-istripun jika menemukan permasalahan harus bekerjasama mencari solusinya, bukan malah bertengkar dan menyakiti hati dan fisik pasangannya.
Tetapi perlu diingat, bahwa tidak semua pekerjaan dapat dilakukan oleh kedua tangan. Ada kekuhususan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh satu tangan saja. Seperti misalnya menulis dengan tangan kanan, membersihkan telinga kiri dengan tangan kiri, dll. Jadi pada saat tangan kanan menulis, jika tangan kiri ikut campur atau mengambil alih karena nanti bisa jadi pekerjaan menulis itu menjadi lambat dan kacau. Ini artinya suami-istri pun harus menyerahkan pekerjaan-pekerjaan tertentu dilakukan sepenuhnya menjadi tanggungjawab suaminya saja atau istrinya saja, dan harus ikhlas dalam mengerjakannya, agar tidak terjadi kekacauan dalam hasil pekerjaan itu. Misalnya dalam hal memperbaiki atap yang bocor itu khusus pekerjaan suami, dalam hal memasak menu tertentu itu khusus pekerjaan istri, dsb.
Mata kanan dan mata kiri. Ada makna yang istimewa dari sepasang mata kita. Mata kanan dan mata kiri sebenarnya melihat dari sisi/sudut pandang yang berbeda, tapi karena berbeda sudutpandang itulah, kita menjadi seimbang dan saling melengkapi dalam memandang suatu objek. Jika kepala kita menghadap lurus ke depan, ada benda yang sama-sama dapat dilihat oleh kedua mata kita, dan ada juga benda yang hanya dapat dilihat oleh salahsatu mata saja. Maka kedua mata itu menginformasikan benda yang dilihatnya itu kepada otak, sehingga mata kanan dan kiri telah saling bekerjasama meskipun dari sudut yang berbeda, untuk kesempurnaan informasi yang kita dapatkan.
Inti dari pembicaraan ini sebenarnya saya ingin memberikan pengarahan kepada pembaca sekalian yang telah menjadi sepasang suami-istri. Tentang sepasang mata misalnya, jika ini dianalogikan pada sepasang suami-istri, maka perbedaan sudut pandang diantara mereka sebenarnya dapat menjadi penyempurna solusi dari masalah yang sedang mereka hadapi. Asalkan prinsipnya adalah harus saling jujur dan saling percaya. Sebagaimana mata kiri yang menginformasikan benda yang dilihatnya kepada otak, mata kiri memberikan informasi yang jujur, dan mata kananpun mempercayai kejujuran dari apa yg dilihat oleh mata kiri itu. mereka sama-sama menyampaikan kebenaran dan mereka saling percaya, maka dari itu mereka kompak. dan seperti itulah seharusnya kekompakan kita. Masih banyak lagi anggota tubuh kita yang sepasang dan mereka bekerjasama, pikirkanlah!

(Deni bin Mu'min)_

Selasa, 05 Februari 2013

Menghadirkan Empati


Sebelum empati itu hadir, kita harus tahu empati itu apa? Empati dalam definisi bahasa inggrisnya adalah feeling into a person (merasakan menjadi orang lain). Ya, itulah definisi sederhana yang mungkin pernah sesekali kita alami. Sebelum empati kita lakukan, ada baiknya juga kita menjawab pertanyaan “mengapa harus bersikap empati?”. Ya, karena dalam melakukan segala hubungan dengan manusia itu memiliki rasa, seperti yang telah kita bahas sebelumnya pada prinsip pengembangan EQ (every connection has emotion). Dan hubungan antarmanusia yang harmonis dan terjalin dengan baik itu memerlukan kecerdasan emosi yang baik pula, dan empati adalah ujuk tombak kecerdasan emosi kita.

Empati dapat hadir disebabkan oleh tiga faktor, yaitu; karena spontanitas, karena dilatih, dan karena diduplikasi. Berikut adalah penjelasannya:

a.      Spontanitas

Seorang bapak setengah baya menceritakan pengalaman pribadinya. “Setelah saya bersama rekan kerja saya menunaikan sholat jumat, saya dan rekan saya itu beristirahat sejenak di pelataran masjid. Pandangan saya menangkap sesosok ayah muda bersama anaknya yang kelihatannya sedang bersedih.  Mereka duduk tak jauh dari tempat kami duduk. Saya memberanikan diri menyapa ayah muda dan anaknya itu. Sejurus kemudian, air mata saya mengalir deras. Sedangkan kawan saya itu hanya mengernyitkan dahinya saja. Anda tahu apa yang dialami oleh ayah muda dan anaknya itu? Beberapa hari yang lalu mereka mengalami kebakaran, semua harta bendanya telah musnah, begitupun istri dan anak perempuannya yang baru lahir telah menjadi korban nyawa. Sekarang yang ada hanya yang menenpel di badan saja dan uang bantuan dari pemerintah dan warga sekitar. Ya, mereka adalah korban kebakaran yang sedang mengenang orang-orang tercintanya pulang ke haribaan Tuhan. Saya menangis deras, karena sayapun pernah mengalami persis seperti apa yang mereka alami. Anak perempuan dan istri saya meninggal, dan kini sayapun di rumah hanya ditemani anak lelaki saya yang sebentar lagi lulus kuliah.”

            Dari petikan kisah di atas dapat diambil titik tekan dari penyebab datangnya empati ini, yaitu datang secara spontan. Empati dapat timbul secara spontan apabila ada kesamaan nasib, kejadian, ataupun pengalaman yang sama. Bapak paruh baya tadi menangis karena dia juga mengalami hal yang sama dengan ayah muda dan anaknya itu. Sedangkan rekan kerjanya hanya mengernyitkan dahi dengan mimik wajah yang berusaha menyesuaikan keadaan itu sebagai tanda simpatiknya, karena dia tidak mengalami kebakaran rumah sebagimana bapak paruh baya dan ayah muda itu. Inilah contoh empati yang datang karena spontanitas.

b.      Dilatih

Kita dapat menghadirkan empati dengan cara dilatih. Langsung saja, cara melatih empati dapat dilakukan dengan tiga cara; yaitu mendengarkan curhat, segera memberikan bantuan, dan mendoakan orang lain.

·         Mendengarkan curhat

Jika kita sering mendengarkan curhat orang lain, paling tidak kita akan berusaha memberikan saran, nasihat ataupun kritik. Semakin baik saran yang kita berikan, dan semakin baik cara menyampaikan kritik yang kita berikan, maka semakin baik pula hasil latihan empati kita.

·         Segera memberikan bantuan

Jika ada seseorang yang memiliki masalah, cobalah segera kita bantu. Kalau bisa sebelum dia meminta pertolongan, kita sudah memberikannya secara reflek. Dari kejadian itu kita akan berusaha untuk memahami kebutuhannya, membaca persoalan akar permasalahannya, dan mencari solusi terbaiknya. Saat orang yang kita tolong itu memberikan ucapan terimakasihnya yang tulus, saat itu kita telah berhasil melatih empati kita.

·         Mendoakan orang lain

Saat kita mendoakan orang lain, berarti kita mengharapkan kebaikan pada dirinya, mengharapkan sesuatu yang dapat membuatnya bahagia dan terbebas dari masalah-masalahnya. Naah, saat itulah kita melatih empati kita. Karena menganggap diri saudara kita yang kita doakan itu sama seperti mencintai diri sendiri. Jika semakin tulus kita berdoa untuk saudara kita itu, bahkan hingga mengeluarkan air mata, maka semakin hebat hasil dari latihan empati kita selama ini.

c.       Diduplikasi

Makna diduplikasi ini dapat juga diperluas menjadi  ditularkan, dan atau diajarkan. Empati yang sudah bisa kita rasakan dapat kita tularkan kepada orang lain. Ingat, kita hanya bisa menularkan/menduplikasi/mengajarkan empati itu jika kita sudah punya rasa empati. Analoginya, kita bisa menduplikasikan kunci kita jika kita punya kunci aslinya. Atau analogi lainnya, kita bisa menularkan penyakit flu apabila di dalam tubuh kita terdapat virus influenza. Dan kita akan bisa mengajarkan ilmu apabila kitapun sudah memiliki ilmu itu terlebih dahulu. Dalam masalah empati ini, jika kita ingin menularkannya/mengajarkannya kepada orang lain maka sekali lagi, kita juga harus punya rasa empati itu terlebih dahulu.

Empati dapat diduplikasi dengan dua cara, yaitu diceritakan/dijelaskan secara verbal dan diajak mengalami secara aktual/tindakan.

·         Pertama, diceritakan secara verbal.

Kita dapat menceritakan pengalaman empati yang kita alami kepada istri kita atau orang lain. Misalnya dengan bercerita seperti berikut ini “Bun, tadi di bus kota ayah bertemu dengan anak buah ayah yang dulu ayah pecat. Sekarang dia sudah lebih sukses, ayah merasa bangga padanya sekaligus merasa bersalah karena telah memecat dia hanya karena hal kecil yang sebenarnya mudah untuk diperbaiki. Ayah dulu khilaf dan memecatnya dalam keadaan marah. Sebenarnya faktor utamanya ayah marah bukan karena dia berbuat kesalahan itu, melainkan karena tender ayah yang digagalkan oleh rekan bisnis ayah. Karena ayah sudah kesal, ditambah lagi dengan melihat kesalahan anak buah ayah itu, sehingga ayah menjadi tambah kesal dan langsung memecatnya. Ayah merasa bersalah sekali Bun, dia adalah pegawai ayah yang rajin dan jujur.

Saudara-saudari sekalian, pada saat kita bercerita yang mengungkapkan perasaan-perasaan kita dan perasaan orang lain itu, sebenarnya kita sedang menduplikasi empati kita. Orang yang mendengarkan cerita itu akan merasuk seolah-olah dia menyelami perasaan kita atau perasaan orang yang kita ceritakan itu. Begitulah caranya.

·         Kedua, diajak mengalami secara aktual/tindakan

Kalau kita pernah menonton acara reality show di tv yang berjudul “Tukar Nasib” atau “Andai Aku Menjadi,” kita akan melihat semua kesaksian orang-orang yang ditukar nasibnya agar mengalami dan merasakan bagaimana keseharian menjadi diri orang lain. Setelah acara itu usai dan mereka kembali ke nasibnya masing-masing, mereka akan menyampaikan banyak hikmah yang dapat diambil. Nah ketika mereka menyampaikan hikmah-hikmah atau pelajaran-pelajaran kehidupan itu sebenarnya mereka telah selesai diduplikasi rasa empatinya. Semakin banyak pelajaran dan hikmah yang mereka ambil, maka semakin bagus hasil duplikasi empati itu.

Kita sebenarnya tidak mengikuti realiti show tersebutpun tidak apa-apa. Itu hanyalah salahsatu contoh real bahwa duplikasi empati dapat dilakukan dengan cara mengalami langsung seperti demikian. Adapun cara-cara sederhana lainnya bisa juga dengan mengajak anak-anak kita ke panti yatim piatu, panti jompo, dan kawasan-kawasan kumuh. Sambil berkunjung, berilah penjelasan-penjelasan pada anak kita. Ketika berkunjung ke panti yatim piatu misalnya, “Nak, kalau usia ayah dan ibu tidak lama lagi, kamu akan menjadi anak yatim piatu seperti teman-temanmu di sini. Apa yang kamu rasakan jika kamu menjadi yatim piatu?” nah itulah poinnya. Kita membimbing anak kita agar dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, pada saat itulah dia merasa menjadi orang lain, feeling into a person.

Ya, begitulah kurang lebih cara menghadirkan empati di dalam diri kita. Insya Alah dengan adanya empati, hubungan kita antarsesama manusia akan menjadi semakin baik.

(Deni bin Mu'min)_

Sahabatku