Kamis, 15 Juni 2017

Untuk Apa Kita Beramal Shaleh?

Minimal ada 3 alasan mengapa kita harus beramal shaleh, ini dia:

1. Untuk memenuhi syarat masuk surga, dan mendapatkan Rahmat Allah.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعٰمِلُونَ
"Sungguh, ini (surga) benar-benar kemenangan yang agung. Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal."
(QS. As-Saffat 37: Ayat 60-61)

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتُ النَّعِيمِ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan,"
(QS. Luqman 31: Ayat 8)

2. Untuk menghapus kesalahan dan dosa-dosa kita.

Allah SWT berfirman:

... ۚ  إِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ  ۚ  ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِينَ
"... Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."
(QS. Hud 11: Ayat 114)

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ  ۖ  ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ  ۗ  وَمَنْ يُؤْمِنۢ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صٰلِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِۦ وَيُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا  ۚ  ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 9)

3. Untuk kebaikan kita sendiri.

Allah SWT berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ  ۖ  وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا  ۚ ...
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. ..."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 7)

... ۚ  وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ  ۗ  إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"... Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 110)_

Al-Haq (kebenaran) dan Al-Batil (tidak benar)

Mengapa yg Haq dan Batil tidak boleh disatukan??

Karena paling tidak ada tiga alasannya:

1. Dapat menyebabkan kebatilan itu masuk menyusupi dengan perlahan-lahan. Yg awalnya Haq itu porsinya besar dan mendominasi, lama-lama dapat tersisihkan bahkan hilang, sehingga porsi kebatilan yg menjadi dominan.

2. Yg sebenarnya itu Batil, jadi bisa dianggap Haq oleh orang-orang awam yg belum mengetahui. Atau sebaliknya, yg sesungguhnya itu Haq, jadi bisa dianggap Batil dan dinilai negatif oleh mereka.

3. Nilai/pahala kebaikan jadi hilang dan sia-sia karena terkotori oleh kebatilan._

3 Cara Utama dalam Mengupayakan Husnul Khotimah


1. Istiqomah dalam ibadah dan ketaatan.

2. Menyegerakan tobat dan jangan ulangi kesalahan lagi.

3. Perbanyak dzikir (mengingat Allah) dengan lisan maupun hati._

Rabu, 07 Juni 2017

Hikmah Larangan Pergi Tanpa Izin Suami dan Tanpa Mahram


Mengapa Allah melarang wanita pergi keluar rumah tanpa izin suami dan tanpa mahram..??

Hikmah Pertama.. Karena sesungguhnya lelaki (suami) itu memiliki sifat cuek (kurang perhatian) kpd istrinya. Maka dari itu, setiap istri izin kepada suaminya utk pergi keluar rumah, maka sang suami akan terpancing perhatiannya. Suami akan perhatian dg menanyakannya pergi utk keperluan apa, acara apa, naik apa ke sana, ada ongkosnya​ atau tidak, perlu diantar atau tidak, dan kemudian jadi ada obrolan antara pasutri itu dg menanyakan bagaimana hasil dari acara/kegiatan itu, hasil dari silaturahim itu, dst.

Jika tidak ada aturan seperti itu, bisa jadi suami yg pada dasarnya kurang perhatian menjadi semakin cuek dan semakin kurang perhatiannya. Dan jika istri bebas pergi tanpa sepengetahuan suaminya, bisa sangat besar berpotensi untuk selingkuh bila dibandingkan dengan istri yg izin kepada suaminya.

Hikmah Kedua.. Karena salahsatu sifat wanita itu ingin dilindungi dan dijaga. Dan apabila ada seseorang yang bisa menjaga dan melindunginya, perasaan di hati wanita itu senang dan tenang. Maka dari itu, Allah ingin menjaga wanita dg cara tetap berada di rumah, dan kalaupun pergi keluar rumah dia ditemani suaminya. Ada perbedaan kebahagiaan antara istri yg pergi ke undangan atau pergi berbelanja sendirian, dg istri yg pergi dg ditemani suaminya. Tentu lebih bahagia istri yg ditemani oleh suaminya.

Jika tidak ada aturan seperti itu, bisa sangat besar kemungkinan wanita akan mudah diganggu, digoda, atau jadi korban pelecehan seksual oleh lelaki lain di kendaraan umum, dll. Jadi sebenarnya Allah sangat sayang kepada wanita dg aturan ini. Inilah aturan dari Tuhan yg paling bijaksana.

====
Allah SWT berfirman:

وَإِنَّهُ ۥ  فِىٓ أُمِّ الْكِتٰبِ لَدَيْنَا لَعَلِىٌّ حَكِيمٌ
"Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz) di sisi Kami, benar-benar (bernilai) tinggi dan penuh Hikmah."
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 4)

..  ۚ  فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ  ۚ  ..
"... Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). .."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 34)_

Selasa, 06 Juni 2017

PRESTASI TERBESAR


Seorang Ustd ditanya oleh jama'ahnya​ dalam sebuah majelis ilmu, kurang lebih begini dialognya..

Jama'ah : "Ustd.. ana sangat mengagumi antum, semoga Ustd selalu Istiqomah dalam taqwa. Ana ada 1 pertanyaan​, stadz. Apa prestasi terbesar Ustd, dan bagaimana cara Ustd dapat meraihnya?"

(Sebelum Ustd menjawab, saya menduga mungkin prestasi terbesar beliau adalah mendapatkan beasiswa S3 ke luar negeri, atau lulus dg predikat cumlaude, atau berhasil membuat pesantren dan meluluskan ribuan generasi muda yg Hafizh Qur'an. Tetapi ternyata bukan itu jawabannya, mari kita lanjutkan dialognya)

Ustd : "akhii.. Kalau antum tanya prestasi, prestasi terbesar ana yg ana senangi dan ana sangat bersyukur akan hal itu adalah.. ana berhasil tobat dari dosa-dosa masa lalu ana.

Ana gak perlu sebut kpd antum apa dosa ana, tapi yg jelas ana sangat senang dan bersyukur bisa berhenti dari kemaksiatan, bersyukur bisa merasakan kenikmatan ketika mendengar suara azan, kenikmatan berdiri dalam sholat, kenikmatan bersedekah, kenikmatan berinteraksi dg Al-Quran.

Ini adalah prestasi bagi ana, dan bagi orang-orang yg sedang basah dg dosa-dosa seharusnya juga mengejar prestasi ini. Memang tidak ada hadiah atau imbalan berupa piala, piagam, plakat atau sertifikat apapun jika kita bisa bertobat. Tapi hadiahnya adalah ampunan, kehidupan yg baik, dan surga dari Allah di akhirat kelak. Dan ana sangat berharap mendapatkan hadiah itu.

Maka dari itu ana mengajak mari kita semua para pendosa, kita sama-sama bertobat. Dosa kecil dan dosa besar semuanya​ membawa celaka dan kerugian bagi pelakunya, di dunia dan akhirat, pasti dosa-dosa itu akan ada efeknya. Jadi, mari kita sama-sama perbanyak istighfar dan beramal shaleh sebagai kelanjutan dari tobat kita, agar tobat kita benar-benar diterima oleh Allah azza wajalla."

====
Allah SWT berfirman:

فَمَنْ تَابَ مِنۢ بَعْدِ ظُلْمِهِۦ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ  ۗ  إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 39)_

Rezeki dalam Kekuasaan Allah

Wahai anakku..

Semut yang ada di bawah tanah diberi rezeki.
Tanahnya ditutup dengan semen, semut masih diberi rezeki.
Semennya ditutup dengan ubin, semut masih diberi rezeki.
Ubinnya ditutup dengan karpet, semut masih juga diberi rezeki.

Jadi, siapapun yang hendak menghalangi rezekimu, tidak akan bisa mereka menghalangi rezekimu jika Allah telah menghendaki engkau mendapat rezeki.

====
Allah SWT berfirman:

...ْ أَرَادَنِى بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكٰتُ رَحْمَتِهِۦ  ۚ  قُلْ حَسْبِىَ اللَّهُ  ۖ  عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
"... jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya? Katakanlah, Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 38)_

Jumat, 02 Juni 2017

Terkabulnya Doa dalam Sebuah Nama


1. Yusuf, artinya Nabi Yusuf

Saya punya teman bernama Yusuf, dan saat dia dewasa dia benar-benar menjadi laki-laki yg tampan dan menarik hati. Dia juga lelaki yg sholih dan dapat menjaga kehormatannya sebagaimana nabi Yusuf menjaga kehormatannya.

2. Zakaria, artinya nabi Zakaria

Saya punya guru bernama Zakaria, dulu beliau masih muda tapi saat ini rambut beliau sudah beruban, dan belum juga dikaruniai keturunan. Beliau juga lelaki yg sholih, tinggal di dekat masjid, sebagaimana nabi Zakaria juga sholih dan dekat dg masjid. Saya berdoa semoga beliau juga segera mendapatkan anak keturunan seperti nabi Zakaria.

3. Musthofa, artinya orang yg terpilih

Saya punya kerabat (mushoharoh) bernama Musthofa, dan setelah dewasa beliau benar-benar terpilih menjadi seorang ketua RT di lingkungan kami.

4. Nur Rosyid, artinya cahaya yg memberi petunjuk

Saya punya guru bernama Nur Rosyid, saat ini beliau benar-benar menjadi cahaya ilmu yg -dg izin Allah- memberi petunjuk kepada banyak sekali murid-muridnya. Beliau telah mendirikan yayasan pendidikan (sekolah) di beberapa tempat. Dan namanya sangat harum bagi setiap orang yg mengenalnya.

5. Maria, artinya Maryam

Saya punya teman yg penggalan namanya adalah Maria. Dan saat ini dia benar-benar menjadi wanita sholihah, taat, dapat menjaga kehormatannya, menundukkan pandangannya dari lelaki non mahram, dan sampai saat ini pula beliau belum pernah disentuh oleh laki-laki (belum menikah). Semoga saja maksud ortunya memberikan nama Maria adalah untuk diartikan sebagai Mariah Al-Qibtiyah, istri Rosulullah SAW. Sehingga beliau nanti akan mendapatkan suami yg baik seperti Rosulullah SAW.

6. Ulin-Nuha, artinya orang yang cerdas, cendikiawan.

Saya juga punya adik kelas perempuan yg nama belakangnya Ulin-Nuha, sejak SMA dia memang sudah terlihat kecerdasannya. Prestasinya banyak. Sekarang sudah menempuh S2 di Belanda. Sungguh luar biasa kecerdasannya.

Lalu bagaimana jika ada orang yg namanya baik tapi kelakuannya/kepribadiannya tidak mencerminkan namanya..?? Itu artinya doa yg melekat pada namanya belum terkabul, atau bahkan tidak terkabul.

Contoh, nama Abdullah yg artinya hamba Allah. Ada 3 Abdullah di masa Rasulullah SAW; ada Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) yg ahli hadits, ada Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) yg juga ahli hadits, dan ada pula Abdullah bin Ubay bin Salul yg merupakan tokoh besar munafik. Meskipun nama mereka bertiga adalah Abdullah, tapi ada diantara mereka yg tercatat sebagai munafik sejati, padahal arti namanya adalah hamba Allah, tidak sepatutnya seorang hamba Allah itu menjadi munafik yg suka bohong, ingkar janji, dan suka berkhianat.

Jadi, diberikan nama yg baik saja belum tentu menjadi orang baik. Apalagi kalau kita punya nama yg tidak baik atau memberikan nama kpd anak dg nama yg memiliki arti tidak baik.

Coba lihat ustd-ustd kita; Adi Hidayat, yg artinya hidayah/petunjuk, benar-benar menjadi jalan hidayah buat orang banyak. Yusuf Mansur, yg artinya mendapat/memberi pertolongan, benar-benar mendapatkan pertolongan Allah sehingga dapat keluar dari masa-masa sulit dalam hidupnya, dan beliau juga senang memberikan pertolongan kepada banyak orang dg sedekahnya​. Arifin Ilham, yg artinya bijak, benar-benar memberikan keputusan yg bijak bagi keluarganya dan murid-muridnya, terutama kebijakan untuk anak pertamanya yg dinikahkan dalam usia muda belia.

====
Sekarang pertanyaannya, siapakah nama Anda? Apakah artinya baik atau tidak bagi anda? Jika memiliki arti yg kurang baik, Rosulullah SAW saaaangat saaaangat menyarankan agar anda mengganti nama Anda, baik itu diganti secara legal (akta) maupun diganti panggilannya dg panggilan yg bagus.

Sebuah hadis riwayat Bukhari sebagai bukti bahwa dalam nama terdapat unsur doa dan harapan orang tua. Suatu ketika seorang sahabat Hazn menghadap Rasullulah SAW, lalu beliau bertanya: “siapakah namamu?” jawabnya: namaku Hazn (kesusahan) Rasul langsung menggantinya seraya bersabda namamu adalah Sahal (kemudahan).

[Deni bin Mu'min]_

Sahabatku