Minggu, 19 Mei 2013

Cegah dan Atasi Amarah




Amarah atau yang sering kita sebut marah adalah suatu emosi negatif yang timbul akibat dari tidak menerimanya hati kita terhadap sesuatu yang kita lihat, dengar, dan atau yang kita rasakan. Seperti misalnya marah melihat mobil kesayangan kita dilecetkan, mendengar kabar bahwa anak kita dizholimi, atau merasa tidak senang karena kita dihina dan diperlakukan tidak sepantasnya oleh orang lain.
Marah itu pasti timbul ketika hal-hal yang di atas tadi terjadi dalam hidup kita, tetapi timbulnya marah dalam emosi kita itu dapat kita kendalikan. Jika kita sebut marah adalah suatu emosi yang negatif, maka dengan dikendalikan amarah itu bisa berubah menjadi emosi yang positif.
Dalam definisinya, emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis serta fisiologis. Ada dua kata kuncinya, yaitu keadaan (fisik dan mental) dan reaksi (fisiologis dan psikologis). Pertama, jangan sampai membuat orang lain marah kepada kita. Karena dengan membuat orang lain marah bisa jadi emosi kita juga akan terpancing untuk marah juga. Ini adalah cara terbaik dalam mengendalikan amarah. Karena mengendalikan emosi itu dapat diartikan juga menjaga agar keadaan emosi kita berada tetap dalam jalur yang benar/positif. Kita harus menyesuaikan keadaan fisik dan mental kita dengan orang lain jika kita berada bersama mereka dalam intensitas waktu yang cukup lama. Karena dengan begitu kita sedang mengusahakan agar orang lain tidak marah dengan aktivitas yang sedang kita lakukan. Dengan menyamakan keadaan itu, berarti kita sedang dalam frekwensi yang sama dengan orang-orang di sekitar kita. Berarti juga kita sedang berempati dan simpati. Misalnya, jika kita dalam keadaan lapar di pengungsian bersama-sama pengungsi yang lain. Maka ketika kita mendapatkan sebungkus nasi, alangkah baiknya jika kita sama-sama berbagi, paling tidak dibagi dua atau dibagi dengan orang yang paling lapar di pengungsian itu, atau kepada orang yang pernah berjasa besar untuk hidup kita.
Pengendalian emosi untuk mengatasi amarah dengan cara kedua juga masih dari turunan kata kunci di atas, yaitu jangan sampai diri kita membenci Allah. Artinya reaksikan diri kita untuk sabar terhadap apa-apa yang terjadi ketika sudah menimpa diri kita, itu adalah pengendalian yang bisa dibilang mudah untuk dilaksanakan tetapi butuh pembiasaan. Kita bisa karena kita terbiasa. Sabar itu bukan berdiam diri, tetapi sabar adalah menahan diri dari apa-apa yang dilarang oleh Allah. Nah di sini marah bisa terbagi menjadi dua, marah yang harus dipendam dan marah yang harus diluapkan. Pendam amarah itu apabila melihat mobil kesayangan kita dilecetkan oleh anak tetangga yang masih kecil/belum mumayyiz (belum bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah, dan nilai-nilai kehidupan yang lain), karena marah terhadap anak itu tidak ada gunanya. Lebih baik langsung saja mendatangi orangtuanya dan meminta ganti rugi dengan pembicaraan yang baik. Contoh lain misalnya mendengar kabar bahwa anak kita dizholimi oleh teman sekolahnya, itupun kasus yang bisa diselesaikan dengan musyawarah bukan diselesaikan dengan amarah. Adukan permasalahan itu kepada kepala sekolah dan orangtua siswa itu, dan beri masukan yang bijaksana kepada anak kita agar dapat menyikapi temannya yang berbuat zholim terhadapnya. Atau contoh terakhir misalnya kita merasa tidak senang karena kita dihina dan diperlakukan tidak sepantasnya oleh orang lain. Membalas hinaan/celaan dengan balik mencela dan menghina dengan penuh amarah juga bukan solusi, balaslah hinaan itu dengan sikap dan reaksi yang baik. Kita sudah sering mendengar bahwa jika keburukan orang lain kita balas dengan kebaikan kita kepadanya, dengan hati yang tulus tentunya, maka hati kita yang bersih itu dapat membersihkan hatinya juga. Itulah yang saya maksud bahwa emosi negatif yang muncul jika dikendalikan dapat menjadi emosi positif, Insya Allah.

(Deni bin Mu'min)_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabatku