Jumat, 04 Januari 2013

Pembunuh Kebahagiaan




Ada dua hal yang dapat membunuh kebahagiaan kita, yaitu ketakutan dan kesalahan. Mungkin kita merasa bahagia saat memiliki banyak uang di dompet, tetapi ketika kita lupa dan meninggalkan dompet di atas meja kantor tiba-tiba kebahagiaan itu hilang dan berubah menjadi kecemasan dan kekhawatiran karena takut dompet itu diambil orang atau takut dompet itu terjatuh di jalan. Dan setelah kita ingat dan mengetahui bahwa dompet itu masih ada di atas meja kerja dalam kondisi utuh, hati kitapun menjadi lega kembali. Itulah rasa takut yang membunuh kebahagiaan kita.
Mungkin anda juga pernah merasa sangat bahagia ketika ingin menuju ke pernikahan bersama calon pasangan hidup anda, merancang dan membayangkan segala sesuatu yang indah bersamanya. Tetapi misalnya tiba-tiba saja anda berbuat kesalahan dengan melakukan perzinahan sebelum hari ijab-qobul dilaksanakan. Maka kebahagiaan itu akan sirna dan berubah menjadi rasa penyesalan yang luar biasa, mungkin sampai seumur hidup anda. itulah pembunuh kebahagiaan yang kedua, kesalahan.
Maka solusi yang terbaik untuk itu semua adalah menghindari sang pembunuh kebahagiaan itu dengan bertakwa dan memperbaiki diri. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 35 yang artinya: “..maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” Itulah kunci pintu kebahagiaan kita. Orang yang bertakwa tidak akan merasa takut karena kedekatannya kepada Allah dan dia yakin akan pertolongan Allah. Dan orang yang memperbaiki diri akan belajar dari kesalahannya untuk tidak mengulangi kesalahannya itu. Insya Allah, pasti orang yang bertakwa dan mengadakan perbaikan diri itu akan terus merasa bahagia.
Ada kisah seorang yang tidak bertakwa tetapi dia tidak takut, dan seorang lagi tidak memperbaiki diri tapi dia tidak bersedih hati. Ini dia ceritanya.. seorang anak konglomerat mendapatkan uang jajan setiap pekannya Rp.1juta, dia suka berbuat dan berkata sewenang-wenang kepada temannya dan merasa derajatnya lebih tinggi dibanding teman-temannya. Ketika dia sedang bermain futsal dengan teman-teman sekelasnya, temannya –yang menjadi penonton- mencuri semua uang di dompetnya itu. Kebetulan dia masih punya uang lain yang disimpan di kantong jaketnya untuk patungan sewa lapangan dan membeli sebotol minuman segar, sehingga belum tersadar bahwa uangnya dicuri. Sementara itu temannya (si pencuri) telah pamit duluan dengan perasaan biasa-biasa saja. Setelah pulang ke rumah, dia baru mengetahui bahwa uangnya hilang. Dan karena ia anak konglomerat yang pengahsilan ortu-nya bisa mencapai 1 milyar lebih perbulan, ia menyikapi kehilangan uang 1 juta itu juga dengan biasa-biasa saja.
Mungkin baginya kehilangan uang segitu sama seperti kehilangan uang Rp.1000 bagi kita, tidak ada artinya. Tidak merasa takut dan tidak mempengaruhi kebahagiaannya. Sangat mudah baginya untuk meminta uang lagi kepada ibu/ayahnya, atau mungkin uang tabungannya juga masih banyak. Sedangkan temannya yang mencuri tadi, dia juga tidak merasa bersedih ataupun menyesal karena berbuat kesalahan (mencuri). Bahkan ia malah merasa senang karena dapat membeli ini dan itu segala rupa dari uang curiannya. Karena sikapnya itu sudah merupakan kebiasaan baginya. Mereka tetap merasa bahagia, tapi kebahagiaan yang semu dan hanya sementara. Dan semua itu akan berakhir ketika kematian menjumpai mereka. Itulah contoh orang yang tidak bertakwa dan tidak memperbaiki diri tetapi tetap merasa “bahagia”. Semoga kita terhindar dari sikap demikian. Aamiin.

(Deni bin Mu'min)_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabatku