Sabtu, 30 Maret 2013

Membangun Kepercayaan Diri




Banyak orang yang berani tampil di depan umum, dan lebih banyak lagi orang-orang yang tidak berani tampil di depan umum. Banyak aktris dan aktor yang tampil sangat bagus di depan kamera, dan lebih banyak lagi orang-orang yang canggung untuk disorot kamera. Ya, itulah sebagian contoh orang yang percaya diri dan orang yang tidak percaya diri. Pada bagian ini kita akan mengulas agar kepercayaan diri kita terbangun.
Apakah percaya diri itu penting? Ya tentu saja penting. Jika tidak penting maka tidak akan ada pembahasan tentang itu di buku ini ataupun di buku-buku pengembangan diri lainnya. Pentingnya percaya diri itu seperti pentingnya sebuah label, merek, dan kemasan dalam sebuah produk. Coba kita banyangkan jika kita mengumpulkan seluruh pasta gigi dari semua pabrik/produsen yang ada di negeri ini. Tetapi pasta gigi itu semuanya belum diberi label maupun merek, apalagi kemasan juga belum. Semua masih terbungkus dengan alumunium foil. Dapatkah kita memilih pasta gigi mana yang paling bagus kualitasnya, yang paling mahal harganya, yang paling lengkap komposisinya, keunggulannya, khasiatnya, yang paling terjamin mutunya? Tentu saja sulit dan pasti sulit, karena kesemua pasta gigi itu belum diberi label, merek dan kemasan. Lain halnya jika sudah diberi kemasan, maka kita tentu dapat memilih pasta gigi mana yang komposisinya paling lengkap dan khasiatnya paling terpercaya. Percaya diri itulah yang akan membedakan kita dengan orang lain ketika berada di komunitas berkumpulnya orang-orang.
Jika percaya diri itu ibarat sebuah bangunan, maka kita membutuhkan beberapa material untuk membangun kepercayaan diri kita. Paling tidak ada empat material yang kita butuhkan untuk membangun percaya diri itu.
1). Pengetahuan
Orang yang memiliki pengetahuan ketika melakukan sesuatu itu berbeda dengan orang yang tidak memiliki pengetahuan. Berbeda dalam hal apa? Ya dalam hal keyakinannya. Orang yang tahu tentang ilmu pembagian harta waris akan punya modal untuk lebih percaya diri ketika diminta tampil di depan keluarganya untuk menjelaskan tentang itu dibanding orang yang pengetahuannya sedikit atau tidak memiliki sama sekali pengetahuan tentang pembagian harta waris itu.
2). Latihan
Seorang ulama besar negeri ini, almarhum K.H. Zainuddin M.Z. Sebelum beliau memberanikan diri untuk tampil di hapadan ribuan bahkan jutaan orang dengan rasa percaya dirinya, beliau melakukan latihan. Latihannya yaitu berupa berbicara/berpidato sendiri di depan cermin, di depan bebek dan angsa. Itulah yang menjadi modal kepercayaan dirinya, karena latihan.
3). Dukungan
Terkadang ada orang yang berani tampil di depan umum karena didukung oleh salahsatu atau beberapa temannya atau seseorang yang dia cintai. Sebenarnya orang yang dia cintai itu sedang membangun rasa percaya dirinya, ketika bangunan percaya diri itu telah ada, maka dia menjadi berani tampil di depan umum.
4). Keakraban
Suasana akrab yang terjalin antar audiens itu juga mempengaruhi bangunan kepercayaan diri para audiens ketika pada waktunya nanti salahsatu dari mereka harus tampil di depan audiens yang lain. Maka suasana keakraban/kedekatan ini juga terbukti dapat membangun rasa percaya diri kita dibandingkan dengan suasana keasingan antar audiens.
Selamat membangun kepercayaan diri, karena anda telah membaca mental manusia.

(Deni bin Mu'min)_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabatku