Senin, 18 Maret 2013

Prinsip-Prinsip Penting Berumahtangga





1.       Prinsip kebanaran
“Kebenaran yang mutlak itu hanya dari Allah dan rasulNya, bukan dari lisanku ataupun lisanmu. Jika kita berselisih tentang suatu masalah, mari kita kembalikan kepada Allah dan rasulNya (alquran dan sunnah).”

2.       Prinsip keadilan
“Keadilan itu bukanlah membagi sama rata, tetapi keadilan itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, memperlakukan sesuatu sebagimana fungsinya. Engkau memperlakukan aku sebagai suami, dan aku memperlakukanmu sebagai istri, sesuai dengan hak dan kewajiban kita masing-masing. Hak dan kewajiban yang Allah berikan kepada kita.”

3.       Prinsip mencintai
“Aku mencintaimu karena Allah, semakin banyak cintamu kepada Allah, maka akan semakin banyak pula cintaku padamu.”

4.       Prinsip syukur
“Aku berterimakasih kepada Allah yang telah memberikan kamu untukku, maka tanda terimaksihku padaNya adalah dengan membahagiakanmu, sebagaimana Allah telah memberikanku kebahagiaan dengan hadirnya dirimu sebagai jodohku.”

5.       Prinsip sabar
“Mari kita menahan diri dari apa-apa yang dilarang Allah atas musibah/ujian yang kita alami, dalam melakukan ketaatan kepadaNya, dan ketika kemaksiatan datang di depan mata kita.”

6.       Prinsip mencari nafkah
“Yang halal itu banyak dan mudah kita cari, asalkan kita punya kesungguhan dan tidak malu melakukan yang halal itu. Yang haram itu membakar tubuh kita di neraka, meskipun itu dapat diperoleh dengan mudah.”

7.       Prinsip uang yang halal dan berkah
“Uang yang halal dan berkah itu adalah uang yang diberikan kepada kita dari orang-orang yang puas dan senang dengan apa yang kita berikan kepada mereka, di jalan yang benar."

8.       Prinsip kasih sayang
“Aku akan kasih apapun yang menjadi kewajibanku untukmu dengan penuh perasaan sayang (sayang = rasa cinta yang teralisasikan dengan tindakan).”

9.       Prinsip rekreasi
“Kita berekreasi bukan hanya untuk menghibur/menyenangkan keluarga kita, tetapi juga untuk menghibur/menyenangkan orang-orang yang butuh kesenangan.”

10.   Prinsip belanja
“Uang yang engkau (istri) belanjakan akan dimintai pertanggungjawabannya, gunakanlah uang ini untuk membeli dan memberi kepada hal-hal yang Allah ridhoi dan yang aku (suami) ridhoi.”

11.   Prinsip marah
“Marahlah engkau kepadaku jika aku melakukan hal-hal yang dimurkai Allah, dan akupun akan memperlakukanmu demikian.”

12.   Prinsip memaafkan
“Aku memaafkanmu karena kesungguhanmu untuk memperbaiki diri, karena pertaubatanmu, dan karena cintamu kepada Allah telah engkau buktikan.”

13.   Prinsip harmonis
“Engaku dan aku selalu seiring sejalan, sepemahaman, saling mendukung dan menguatkan. Maka dari itu kita berjodoh, kita menyatu, kita harmonis dan bahagia.”

14.   Prinsip mendidik anak
“Tingkah laku kita membuat akhlak mereka lebih baik, kata-kata kita membuat sikap mereka lebih bijak, doa kita membuat hati mereka lebih lembut.”


15.   Prinsip  memanfaatkan harta
“Yang terpenting bukanlah banyak atau sedikitnya harta yang kita miliki, tetapi yang terpenting adalah dari mana harta itu kita peroleh dan untuk apa harta kita gunakan. Yang penting adalah harta yang banyak dan bermanfaat dunia akhirat, yang tidak penting adalah segala sesuatu yang boros dan mubazir”

16.   Prinsip berhemat
“Kita hanya membelanjakan apa-apa yang kita butuhkan, bukan apa-apa yang kita inginkan. Boleh sesekali kita menikmati apa yang kita inginkan, asalkan tidak sering kali.”

17.   Prinsip silaturahim
“Ada 3 macam rumah yang menjadi agenda silaturahim kita: rumah orangtua dan kerabat, rumah guru, dan rumah sahabat-sahabat yang sholih dan sholihah.”

18.   Prinsip berbagi pada tetangga
“Berbagi makanan yang paling pertama adalah tetangga, berbagi makanan yang paling utama adalah kepada yang kelaparan. Urutan prioritas tetangga yang berhak mendapatkan makanan kita ini ditentukan dari pintu rumah tetangga yang paling dekat dengan pintu rumah kita.”

19.   Prinsip menuntut ilmu
“Kita belajar, kita mengajar, dan kita mengamalkan. Belajar itu menjadikan yang belum bisa menjadi bisa, yang sudah bisa menjadi lebih bisa, yang lebih bisa menjadi yang paling bisa (ahli).”

20.   Prinsip manja dan mandiri
“Manjalah engkau ketika aku berada di sisimu, mandirilah engkau ketika aku tidak sedang di sisimu. Dan akupun akan begitu kepadamu.”

21.   Prinsip berbakti pada keempat orangtua
“Berbakti kepada keempat orangtua kita adalah tanda bukti cinta kita kepada mereka. Jika aku memberi sesuatu kepada orangtua kandungku, maka akupun memberikan sesuatu kepada orangtuamu. Sesuatu itu mungkin tidak harus sama bentuknya, tetapi harus senilai harganya.”

22.   Prinsip memberikan saran dan kritik
“Kita harus berpikir dulu sebelum berbicara, kita mencari kebenaran dulu sebelum mengkritik, dan kita memahami kebenaran dulu sebelum memberi saran.”

23.   Prinsip cemburu
“Aku cemburu jika engkau bersikap tidak wajar (bersikap tidak syar’i) kepada orang lain, dan jika orang lain bersikap tidak wajar kepadamu. Maka jagalah perasaanku dengan menjaga sikapmu kepada orang itu.”

24.   Prinsip berdiskusi
“Setiap orang mendapat giliran berbicara, setiap ada yang berbicara harus didengarkan, dan setiap keputusan ditentukan oleh kepala rumahtangga. Lalu diskusi dilakukan dalam nuansa yang penuh keakraban dan kehangatan.”

25.   Prinsip bercanda
“Tujuan dari humor/candaan itu bukan untuk membuat pasangan anda tertawa terbahak-bahak. Tujuan dari humor itu adalah untuk menghibur. Bercanda kreatif  yang menghibur itu tidak boleh dengan celaan, kedustaan, menyakiti perasaan, dan mengabaikan kesopanan. Humor kreatif itu bisa dengan pelesetan, klimaks-anti klimaks, media visual, audio, hiperbola, pantomim, dll.”

26.   Prinsip  bijaksana
“Aku menasihati diriku sendiri dan menasihati dirimu tentang isi alquran dan sunnah, menasihatimu dengan cara yang diajarkan Allah dan RasulNya. Dan kita memutuskan perkara dengan mempertimbangkan benar dan salahnya, baik dan buruknya, manfaat dan mudhorotnya.”

27.   Prinsip taat pada suami
“Suamiku, aku akan mentaati semua titahmu selama engkau tidak fasik dan tidak menyuruhku untuk mendurhakai Allah dan RasulNya, tidak untuk melakukan perbuatan maksiat, dan tidak juga untuk melakukan hal-hal yang diluar ajaran alquran dan sunnah.”



28.   Prinsip mengalah
“Sebenarnya aku ingin kita menang berdua, tetapi jika hal itu dapat menyenangkanmu dan tidak membuatku bersedih, aku akan mengalah dan membiarkanmu menang sendiri. Perlahan-lahan akupun akan segera menghampirimu di garis kemenangan itu.” (artinya, dia rela mengalah kepada pasangannya meskipun hatinya kurang ridho, lalu ia berusaha untuk senang juga sebagaimana pasangannya merasakan kesenangan)

29.   Prinsip menyatu
“Awalnya kita adalah dua insan yang berbeda, tapi aku mengubah diriku agar memiliki banyak kesamaan denganmu. Aku menjadikan kesukaanmu sebagai kesukaanku, aku menggunakan simbol-simbol dirimu menjadi kebiasaanku, dan aku melakukan segala sesuatu dengan mengikuti caramu melakukan itu.”

30.   Prinsip menabung dan berhutang
“Aku menyisihkan sebagian uang gajiku untuk menabung, kalau bisa engkau juga menyisihkan uang pemberianku untuk kau tabung. Engkau tidak harus mengetahui berapa saldo tabunganku, dan aku juga tidak harus mengetahui berapa jumlah tabunganmu. Tapi engkau harus mengetahui berapa penghasilanku dan dari mana saja aku mendapatkan itu, dan aku juga harus mengetahui apakah nafkah pemberianku itu sudah memenuhi semua kebutuhanmu dan anak-anak kita atau belum. Jika aku ingin berhutang kepada seseorang, maka aku akan diskusikan kepadamu. Dan jika engkau ingin berhutang, tolong diskusikan juga kepadaku.”

31.   Prinsip kerjasama (kolaborasi dan elaborasi)
“Kerjasama itu kita melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama (kolaborasi), atau kita sama-sama bekerja dengan melakukan hal yang berbeda (elaborasi) tetapi bertujuan sama. Dan hasil dari kerjasama kita itu adalah keuntungan/kebahagiaan yang kita rasakan bersama.”

32.   Prinsip saling menyempurnakan
“Aku menutupi kekuranganmu, lalu aku memperbaiki kekuranganmu, dan kini engkau tidak memiliki kekurangan sama sekali.” (kekurangan/aib yang dimaksud konteksnya lebih mengarah pada kekurangan nonfisik seperti akhlak dan mental. Karena kekurangan fisik itu hanya bisa ditutupi dengan bersolek dan diperbaiki dengan operasi plastik)

33.   Prinsip bahagia
“Bahagia itu saat kita dan anak-anak semakin taat kepada Allah, keilmuan dan ketakwaan kita bertambah, kebutuhan kita dicukupi olehNya, tidak ada perbuatan keji dan munkar yang kita perbuat, dan kaum muslimin lainnya menjadi senang/bahagia karena perantara harta dan jiwa kita.”

(Deni bin Mu'min)_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabatku