Sabtu, 15 Desember 2012

Paradigma Awal (Paradigma Berumahtangga)



Kita menjalani “kereta rumahtangga”, bukan “bahtera rumahtangga”
               

      Mengapa saya menggunakan istilah kereta rumah tangga dan bukan bahtera rumahtangga? Ya, karena filosofi antara kereta dan bahtera itu berbeda. Dimana letak perbedaannya? Kereta itu memiliki jalur/rel yang pasti untuk sampai ke tempat tujuan, sementara bahtera itu jalurnya tidak terlihat dengan jelas. Perjalanan kereta lebih cendrung tenang dan stabil, sementara bahtera kadang terombang-ambing oleh angin dan ombak, penumpang bahtera itupun suatu saat tenang dan suatu saat bergolak mengikuti ombak atau badai yang menerpa. Pemandangan naik kereta lebih tidak menjenuhkan daripada naik bahtera. Kereta dapat beristirahat di tengah perjalanan (di setiap stasiun) untuk sekedar isi ulang bahan bakar/servis kereta atau untuk memanjakan badan masinis dan para penumpangnya, sedangkan kesempatan seperti itu tidak bisa didapatkan apabila menaiki bahtera. Jangankan untuk servis, mengisi ulang bahan bakarnya apabila kehabisan atau bocor ditengah laut saja bahtera kelimpungan. Yang intinya dari filosofi ini, naik kereta lebih menentramkan dibanding naik bahtera. Filosofi ini akan membentuk pola pikir dan membantu Anda dalam dalam menjalani rumahtangga Anda.

         Peran suami adalah sebagai masinis. Alquran dan sunnah adalah rel/jalan lurus yang menjadi pijakan yang harus ditempuh untuk menuju tempat terindah/surga dengan keridhoan Allah. Maka suami harus bisa menjadi imam/pemimpin dalam kereta rumahtangganya untuk membawa istri, anak-anak, dan masyarakat yang ada dalam –gerbong- tanggungjawabnya. Sang masinis harus terlatih dan memiliki ilmu yang mumpuni untuk memimpin keretanya, dalam artian ini suami juga harus memiliki ilmu yang mumpuni untuk memimpin rumahtangganya. Suami harus membawa kereta rumahtangganya agar tetap berjalan di rel/jalur yang benar di atas jalan Islam (manhaj Islam) yang dibimbing oleh alquran dan sunnah. Apabila ada yang menghalangi perjalanan kereta di rel/jalan lurus ini, maka orang yang menghalangi itu harus diberi peringatan dengan klakson (horn) kereta, apabila ia tidak mengindahkan peringatan itu, maka bukan salah masinis dan keretanya jika sang penghalang harus ditabrak oleh kereta yang melaju di jalan yang benar itu. Nah, apabila ada orang yang menjadi penghalang kebaikan dalam rumahtangga Anda, maka berilah ia peringatan dulu. Apabila ia tidak peduli, maka teruslah Anda berjalan, dia yang menghalangi kebaikan itu akan terkalahkan, dan Anda tidak akan disalahkan.
(Deni bin Mu'min)_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabatku